السبت، 20 يوليو 2019

Alat Musik Tradisonal Indonesia

Alat Musik Tradisonal Indonesia

Alat Musik Tradisional Indonesia | Alat musik tradisional Indonesia atau alat musik daerahmerupakan kekayaan budaya dan tradisi Bangsa Indonesia. Hampir semua provinsi di Indonesia memiliki alat musik tradisional khas yang menjadi ciri khas Provinsi tersebut. Namun adakalanya juga alat musik tradisional tersebut memiliki bentuk yang sama dengan nama-nama yang berbeda. Fungsi alat musik tradisional ini antara lain untuk mengiringi tarian daerah Indonesia atau untuk lebih jelas Sobat bisa membaca artikel mengenai fungsi musik daerah.

Untuk mengenal lebih jauh tentang alat musik tradisional Indonesia  atau alat musik daerah dari seluruh provinsi di Indonesia, berikut ini kami sampaikan jenis-jenis / macam-macam alat musik tradisional Indonesia dari Aceh 34 Provinsi di Indonesia beserta gambar dan penjelasan singkatnya :

1. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Aceh


Teganing adalah salah satu alat musik pukul tradisional yang berasal dari daerah Gayo khususnya Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Alat musik Teganing dibuat dari seruas bambu pilihan dengan panjang sekitar 1 - 1,10 m. Adapun ruas bambu yang bisa dijadikan sebagai alat musik teganing harus mencukupi panjangnya, diameternya cukup besar dan tua.


2. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Sumatera Utara

Di Pulau Jawa kita mengenal alat musik gendang/kendang yang dimainkan dalam kesenian gamelan dsb, nah di Sumatera Utara kita bisa mengenal alat musik yang mirip dengan kendang. Namanya adalah alat musik Gordang.
Gordang (single headed drum) adalah salah satu alat musik Batak Toba, yaitu satu buah gendang yang lebih besar dari taganing yang berperan sebagai pembawa ritem konstan mau pun ritem variable.
Alat musik dari Sumatra Utara yang dikenal dengan nama Gordang ini dibuat dari kayu dan dimainkan dengan cara dipukul.


Alat Musik Tradisional Gordang


3. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Sumatera Barat

Saluang adalah alat musik tradisional dari Sumatera Barat yang terbuat dari Bambu Talang.Saluang memiliki diameter sekitar 3-4 cm, panjangnya 40 - 60 cm dan hanya memiliki 4 lubang. Alat musik tradisional Saluang ini dimainkan dengan cara ditiup.


4. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Jambi

Serangko adalah sejenis alat musik tiup yang terbuat dari tanduk kerbau. Panjang alat musik Serangko ini  mencapai 1 meter - 1,5 meter. Pada zaman dahulu alat musik Serangko ini digunakan oleh komandan perang untuk memberikan komando. Selain fungsi itu, Serangko juga digunakan untuk pemberitahuan ketika ada musibah kematian yang menimpa salah satu masyarakat di Jambi.

5. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Riau dan Kepulauan Riau

Nafiri adalah alat musik tiup yang berasal dari Provinsi Riau. Alat musik tiup yang mirip dengan terompet ini  memiliki fungsi sebagai berikut :
  • Pengiring tarian tradisional, tari Inai, tari Jinugroho dan tari Olang.
  • Sebagai alat musik yang utama di dalam musik robat yang merupakan musik yang dimainkan di lingkungan masyarakat.
  • Sebagai melodi yang digunakan untuk menentukan gerakan-gerakan silat.
  • Untuk penobatan raja-raja ketika Riau masih berbentuk kerajaan-kerajaan serta bangsawan.
  • Tanda terhadap terjadinya peperangan, bencana, dan kematian.
  • Alat yang digunakan sebagai penanda spiritual untuk memanggil dewa, roh, atau arwah nenek moyang.


6. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Bengkulu

Tessa adalah salah satu alat musik tradisional dari bengkulu yang berbentuk seperti rebana, terbuat dari tembaga, besi plat atau alumunium, dan juga bisa dari kuali yang permukaannya ditutup degan kulit kambing yang telah dikeringkan. Alat musik ini digunakan bersama dengan Dol, untuk acara Tabot.

Alat musik Indonesia Tassa - heritage.org

 7. Alat Musik Tradisiona Indonesia dari Kepualauan Bangka Belitung


Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) ada banyak alat musik tradisional yang khas dan bernuansa melayu. Salat satu alat musik yang khas di Kepulauan Babel adalah Gambangan. Alat musik Gambangan seperti Gamelan di Jawa dan Bali, terdiri dari tujuh potong kayu. Terkadang dalam kondisi tertentu bisa hanya menggunakan lima potong kayu, merupakan alat musik asli Belitung.

Bahannya terbuat dari kayu lempung atau kayu yang ringan seperti meranti, medang, libut, dan sengkrubong.

Gambangan - http://bangka.tribunnews.com

8. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Provinsi Sumatera Selatan


Salat satu alat musik Sumatera Selatan yang khas adalah alat musik tenun.  Disebut alat musik tenun dikarenakan alat musik ini biasanya dipergunakan sebagai penghibur para pekerja yang sedang menenun. Alat musik tenun ini terbuat dari kayu yang berbentuk persegi panjang, dengan ornamen segitiga berangkai ditengahnya. Segitiga berangkai yang berada di tengah alat musik inilah yang dibunyikan dengan cara dipukul sehingga menimbulkan bunyi dengan nada-nada tertentu.


9. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Provinsi Lampung

Gamolan adalah salah satu alat musik menyerupai gamelan. Alat musik Gamolan dari Provinsi Lampung ini merupakan alat musik yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara dipukul.
Diperkirakan alat musik khas Lampung ini sudah dimainkan masyarakat Lampung kuno sejak abad ke-4 masehi, akan tetapi sampai dengan saat ini banyak masyarakat Lampung yang belum mengetahui dari kekayaan alat musik tradisional ini.

 


10. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Provinsi Banten

Angklung Buhun adalah alat musik angklung tradisional dari masyarakat Baduy di Banten. Bagi masyarakat Baduy, kesenian Angklung Buhun ini merupakan salah satu kesenian yang dianggap sakral dan memiliki nilai khusus di dalamnya. Kesenian Angklung Buhun biasanya hanya di tampilkan pada acara tertentu saja, terutama pada saat penanaman padi. 


11. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Provinsi DKI JAKARTA

Alat musik Kong'ahyanTehyan dan Sukong adalah alat musik tradisional dari Tionghoa yang telah digunakan oleh masyarakat Betawi sejak zaman Belanda dalam kesenian gambang kromong, lenong dan ondel-ondel. Alat musik gesek ini bentuknya hampir mirip dengan rebab. Alat musik tradisional Betawi Kong'ahyan, Tehyan dan Sukong ini memiliki beberapa perbedaan diantaranya, yaitu :
  1. Kong’ahyan mempunyai ukuran tempurung(batok) kelapa yang berukuran kecil dengan nada dasar D yang ( disebut sebagai melodi )
  2. Tehyan mempunyai ukuran tempurung(batok) kelapa berukuran sedang dengan nada dasar A ( disebut juga rythem )
  3. Sukong mempunyai ukuran tempurung(batok) kelapa yang berukuran paling besar dengan nada dasar G ( disebut juga sebagai bass )


12. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Provinsi Jawa Barat

Celempung adalah alat musik yang terbuat dari hinis bambu (kulit bambu)  yang dimainkan dengan cara dipukul. Seperti halnya alat musik tradisional karinding, pukulan pada hinis bambu pada celempung akan menghasilkan resonansi bunyi.

Celempung dimainkan dengan 2 cara ; dipukul ( kedua alur sembilu dipukul bergantian, tergantung ritme dan suara yang diinginkan ) dan diolah ( tangan kiri mengatur besar kecil suara yang keluar dari badan celempung ). Suara tinggi diperoleh dengan membuka lebih lebar. Suara rendah dengan menutup rapat lubang. Suara yang dihasilkan celempung bisa beragam, tergantung keahlian pemain.

Selain celempung masih banyak alat musik Jawa Barat lainnya seperti calung, karinding, tarawangsa dan lain sebagainya, Selengkapnya kunjungi : http://www.tradisikita.my.id/2013/04/alat-musik-tradisional-jawa-barat.html#ixzz45eJRAQPJ

13. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jogjakarta

Pada umumnya alat musik dari ketiga provinsi ini memiliki kesamaan, mengingat penduduk di ketiganya mayoritas adalah suku adat jawa. Alat musik yang dikenal dikalangan masyarakat jawa antara lain adalah alat musik gamelan yang terdiri dari berbagai alat musik seperti kendang, bonang, sharon, demung, kenong, slhenthem, gambang, sitter, suling dan gong. 

14. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Provinsi Bali

Rindik merupakan salah satu alat musik tradisional Bali. Alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul tersebut terbuat dari susunan bambu. 
Terdapat lima nada dasar yang dimiliki oleh Rindik. Rindik biasa digunakan sebagai musik pengiring hiburan rakyat "Joged Bumbung. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kini Rindik sudah lebih fleksibel dalam pemakaiannya. Beberapa diantaranya adalah sebagai pelengkap untuk acara pernikahan/resepsi serta dapat pula untuk menyambut tamu.


14. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Provinsi Nusa Tenggara Barat

Sarone adalah sebuah alat musik tiup dari Kabupaten Bima Dompu yang termasuk golongan aerofon yang berlidah dan dimainkan dengan cara ditiup / ufi.

Alat musik tradisional Sarone dibuat dari dua bahan pokok yaitu buluh ( jenis bambu kecil) dan daun lontar. Lolo dan anak lolo terdiri atas bulu.. Pada lolo terdapat 6 (enam) bongkang ( lubang) di atas, dan satu lubang di bawah. Cara melubangi dilakukan dengan menggunakan kawat besar yang dibakar. Jarak antara lubang yang satu dengan yang lainnya diukur dengan mengambil ukuran keliling lolo. Sedang lubang yang ada di bawah, jaraknya ½ (setengah)dari jarak antara dua lubang diatas.


15. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Provinsi Nusa Tenggara Timur


Masyarakat Dawan peraya (Provinsi NTT) bahwa alat musik Knobe Kbetas telah ada sejak nenek moyang mereka berumah di gua-gua. Bentuk alat musik ini sama dengan busur panah.
Cara memainkannya ialah, salah satu bagian ujung busur ditempelkan di antara bibir atas dan bibir bawah, dan kemudian udara dikeluarkan dari kerongkongan, sementara tali busur dipetik dengan jari. Meripakan kebiasaaan masyarakat dawan di pedesaan apabila pergi berook tanam atau mengembala hewan mereka selalu membawa alat-alat musik seperti Leku, Heo, Knobe Kbetas, Knobe Oh, dan Feku. Sambil mengawasi kebun atau mengawasi hewan-hewan, maka musik digunakan untuk melepas kesepian.


15. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Provinsi Kalimantan (Barat, Tengah, Timur, Selatan dan Utara)

Sapek (sebutan lain: sampeksampiq) adalah alat musik dawai pada masyarakat Dayak di Kalimantan. Dari ratusan kelompok masyarakat (etnis) dan sub-etnis Dayak, sapek paling banyak terdapat di Dayak Kayaan dan Kenyah. Alatnya tampak seperti gitar, dengan tubuh yang panjang dan leher yang sangat pendek--mungkin leher alat lute terpendek di dunia.
Sangat beda dengan gitar, fret (batas nada, dalam istilah setempat disebut lasar) yang jumlahnya belasan itu hanya 2-3 saja, bahkan kadang tidak ada sama sekali yang terletak pada bagian leher. Hampir seluruh lasar terpasang di bagian tubuh. Keunikan lainnya, lasar-lasar itu bisa digeser atau dipindah-pindah, karena pemasangannya tidak tertanam permanen seperti gitar, melainkan ditempelkan dengan lem yang sangat kental dan tak pernah kering, yang terbuat dari madu-lebah. Dengan cara pemindahan lasar itulah laras atau "susunan-nada" (modus) sapek berganti-ganti.


15. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Provinsi Sulawesi Tengah

Tutuba adalah merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Sulawesi Tengah yang merupakan alat musik berdawai yang terbuat dari bambu. Tutuba adalah alat musik khas suku To Wana.
Suku Wana (To Wana), adalah penduduk asli di kawasan Wana Bulang yang berada di wilayah kabupaten Morowali, pemukiman berada di kecamatan Mamosolato, Petasia, dan Soyojaya, dan tedapat juga di wilayah pedalaman di kabupaten Luwuk Banggai  - Sulawesi Tengah. Suku Wana disebut juga sebagai Tau Taa Wana yang berarti "orang yang tinggal di hutan". Sedangkan mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai Tau Taa, atau "orang Taa".




 16. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Propinsi Sulawesi Selatan

Alat musik Talindo atau Popondi ini terbuat dari kayu, tempurung kelapa, dan senar. Talindo/Popondi merupakan alat musik jenis sitar berdawai satu (one stringed stick zilher). Tempurung kelapa berfungsi sebagai resonator. Alat musik ini dimainkan secara tunggal setelah para petani merayakan pesta panen dan untuk mengisi waktu senggang bagi para remaja.

Kata Tolindo adalah sebutan yang berasal dari daerah Bugis. Sedangkan kata Popondi adalah sebutan dari daerah Makasar.

Alat musik tradisional Talindo / Popondi berbentuk busur seperti tanduk kerbau atau tanduk sapi yang bertumpu pada sebuah tempurung kelapa, di ujungnya atas bagian tanduk dipasang 1 buah senar dan dimainkan dengan cara dipetik.

16. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Propinsi Sulawesi Selatan

Alat musik tradisional Kanda wuta adalah sebuah alat musik tradisional Sulawesi Tenggara yang dimainkan dencan cara dipukul dan digunakan untuk mengiringi tarian lulo. Alat musik Kanda Wuta ini sudah ada sejak abad ke-10. 

Sekitar abad ke-10 daratan Sulawesi Tenggara memiliki dua kerajaan besar yaitu kerajaan Konawe (wilayah Kabupaten Konawe) dan Kerajaan Mekongga (Wilayah Kabupaten Kolaka) secara umum kedua Kerajaan ini serumpun dan dikenal sebagai suku Tolaki. Suku tolaki memiliki beragam seni tari diantaranya adalah tarian lulo dengan iringan musik kanda-kanda wuta.
Alat musik Kanda Wuta ini dibuat dari kayu, tanah liat, rotan dan pelepah sagu.


18. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Propinsi Sulawesi Utara, Gorontalo & Sulawesi Barat

Alat musik Kolintang adalah alat musik tradisional yang terkenal di daerah Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Bahan untuk membuat alat musik tradisional kolintang ini adalah kayu. Ada Kolintang yang dibuat dari bahan kayu bernama kayu bandaran, kayu wenang, dan lain sebagainya. Umumnya kayu yang dibuat untuk membuat Kolintang ini adalah kayu-kayu ringan, namun memiliki serat kayu yang padat. Alat musik kolintang dimainkan dengan cara dipukul. Bahkan Kolintang ini terkenal dapat mengeluarkan bunyi yang khas karena bisa digunakan untuk mengeluarkan bunyi nada rendah maupun nada tinggi. Salah satu fungsi Kolintang adalah mengiringi tari tradisional dari Sulawesi Utara yaitu Tari Lenso dan Tari Tatengesan.


19. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Kepulauan Maluku (Prov. Maluku dan Maluku Utara)

Tahuri adalah alat musik dan komunikasi yang dikenal didaerah pesisir kepulauan Maluku. Alat musik ini terbuat dari kulit kerang dan dibunyikan dengan cara ditiup. jika ditiup bunyinya akan terdengar nyaring. Semakin kecil ukuran kerangnya, semakin nyaring bunyinya dan semakin besar kerangnya bunyinya pun semakin rendah.

Pada awalnya alat musik tahuri berfungsi sebagai alat komunikasi antara raja dan masyarakat, antara Raja dengan staf-staf negeri. Kemudian dalam perkembangannya tahuri juga berfungsi :
  1. Beberapa tata cara adat masih menggunakan Tahuri sebagai pemandu berlangsungnya acara adat istiadat.
  2. Salah satu benda arkeologi.
  3. Salah satu alat musik tradisional masyarakat Maluku
  4. Sebagai cendramata atau souvenir baik untuk lokal maupun non lokal.

20. Alat Musik Tradisional Indonesia dari Papua dan Papua Barat

Tifa adalah nama alat musik tradisional dari Indonesia Timur khususnya Malukudan Papua. Alat musik tradisional yang satu ini terbuat dari kayu yang dilubangi tengahnya serta salah satu ujungnya ditutup dengan menggunakan kulit binatang. Kulit binatang yang digunakan untuk membuat tifa biasanya adalah kulit rusa. Cara memainkan tifa hampir sama dengan kendang, yaitu dengan cara dipukul. 

Tifa terdiri dari beberapa macam yaitu  Tifa JekirTifa DasarTifa PotongTifa Jekir Potong dan Tifa Bas.

Alat musik tifa dipergunakan untuk mengiringi tarian perang seperti Tari Gatsi dari suku Asmat 


Nah Sobat sakuilmu.net, demikian tadi jenis jenis alat musik tradisional ASLI Indonesia yang bisa kamu ketahui. Semoga alat musik tradisional Indonesia akan tetap lestari di NKRI. Sampai jumpa pada artikel selanjutnya.

الأربعاء، 12 يناير 2000

Fungsi Musik dalam Tari

Fungsi Musik dalam Tari

Kita telah mengetahui mengenai Pengertian dan Jenis Tari Tradisional dan juga Pengertian dan Fungsi Musik Daerah. Kali ini kita menddalami kembali mengenai fungsi musik dalam tari tradisional di Indonesia. Musik dan tari adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. dengan adanya musik dapat mengatur tempo dan lebih mewarnai sebuah tarian. Secara garis besar, fungsi musik dalam tari adalah sebagai berikut :


 1. Fungsi musik dalam Tari dalam Memberi irama (membantu mengatur waktu)

Kita kenal bahwa tari itu terdiri dari gerak-gerak yang berirama, mengatur atau menentukan irama, sangat sulit menari tanpa musik. Dimana irama dalam tari yaitu pengatur waktu (tempo) cepat dan lambatnya dari suatu rangkaian gerak, dan perlu saling mengisi dan saling mengiringi.

 2. Fungsi musik dalam tari dalam memberi gamabaran suasana 

Dalam tari, suasana atau ilustrasi sangat erat hubungannya dengan watak penari, terutama pada tari tradisional yang sangat memerlukan berbagai suasana. Adapun watak dalam suasana tari antara lain watak luguh/ halus, watak lenyap/ ganjen, dan gagah.

3. Fungsi musik dalam tari dalam mempertegas ekspresi gerak

Dalam tarian sudah barang tentu mempunyai tekanan-tekanan gerak yang diatur oleh tenaga. Mempertegas ekspresi gerak akan lebih sempurana di iringi atau di pertegas oleh hentakan instrumen musik sebagai pengiring tari.

 4. Fungsi musik dalam tari dalam memberikan rangsangan kepada penari 

Sudarsono mengatakan elemen dasar dari tari adalah gerak dan ritme, Maka elemen dasar dari musik adalah nada Ritme dan Melodi. Sejak zaman prasejarah sampai sekarang dapat dikatakan dimana ada tari disitu pasti ada musik, musik dalam tari bukan hanya sekedar pengiring, tetapi musik adalah patner tari yang tidak boleh ditinggalkan, musik dapat memberikan suatu irama yang selaras sehingga dapat membantu mengatur ritme atau hitungan dan dapat juga memberikan gambaran dalam ekspresi suatu gerak (1997 : 46)

Demikian sobat sakuilmu, 4 fungsi musik dalam tari. Semoga bermanfaat bagi Sobat semua.

الثلاثاء، 11 يناير 2000

Sejarah Kerajaan Majapahit

Sejarah Kerajaan Majapahit

Sejarah Kerajaan Majapahit | Kerajaan Majapahit adalah nama sebuah kerajaan di Indonesia yang berdiri dan mengalami kejayaan sejak tahun 1293 sampai dengan 1500 masehi. Kerajaan Majapahit ini terletak di Wilayah Trowulan dekat Sungai Brantas - Jawa Timur, merupakan negara agraris. Kejayaan yang dicapai oleh Kerajaan Majapahit hingga dapat menyatukan wilayah Nusantara adalah ketika masa kepemimpinan Raja Hayam Wuruk  yang berkuasa sejak tahun 1350 hingga 1389.


Dalam bahasa Sanskerta (Sanskrit), Majapahit juga dikenal dengan nama Vilvatikta (Wilwatikta. Vilva: Pohon Maja, Tikta : Pahit). Sehingga, selain Majapahit ( baca : Mojopait) orang Jawa juga mengenal Kerajaan besar ini dengan nama Wilwatikta (Wilwotikto).

SEJARAH KERAJAAN MAJAPAHIT


1. Berdirinya Kerajaan Majapahit


Berdirinya kerajaan Majapahit tidak terlepas dari kerajaan  Singhasari yang berdiri sejak 1222 hingga 1292 M.  Pada saat runtuhnya kerajaan Singhasari yang dipimpin oleh Raja Kertanegara yang ketika itu telah digulingkan oleh Adipati Kediri bernama Jayakatwang. Raden Wijaya yang merupakan menantu Kertanegara, datang menyerahkan diri kepada Jayakatwang. Kemudian atas saran dari Aria Wiraja, akhirnya Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya, serta mengirimnya ke Hutan Tarik.

Di Hutan Tarik inilah Raden Wijaya mendirikan sebuah desa yang diberi nama Majapahit. Nama Majapahit sendiri berasal dari nama buah "maja" yang berasa "pahit".

Ketika pasukan Mongol dari Tiongkok tiba di pulau Jawa, Raden Wijaya bersekutu untuk meruntuhkan raja Jayakatwang. Namuns setelah berhasil menjatuhkan Jayakatwang, Raden Wijaya berbalik menyerang sekutunya Pasukan Mongol, hingga kocar kacir.

Adapun tanggal yang pasti yang digunakan sebagai tanda berdirinya Kerajaan Majapahit di Pulau Jawa adalah hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja, yaitu tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 saka yang bertepatan dengan tanggal 10 November 1293. Pada saat itu saat itu Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja Kerajaan Majapahit dengan nama resmi Kertarajasa Jayawardhana.

2.  Mahapatih Kerajaan Majapahit Gajah Mada & Sumpah Palapa


Kertarajasa Jayawardhana meninggal pada tahun 1309 M. Puncak kepemimpinan Kerajaan Majapahit kemudian diteruskan oleh putranya yang bernama Jayanegara. Pada tahun 1328, Jayanegara dibunuh oleh tabibnya bernama Tanca. Kemudian kekuasaan Kerajaan Majapahit diteruskan oleh Tribhuwana Wijayatunggadewiyang merupakan anak dari Ibu Tiri Jayanegara yaitu Gayatri Rajapatmi yang mengundurkan diri dari tahta yang seharusnya ia terima.

Pada masa kepemimpinan ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi inilah diangkat seorang patih yang sangat terkenal bernama Gajah Mada. Patih Gajah Mada diangkat menjadi Patih Amangkubhumi kerajaan Majapahit pada tahun 1336 M (1258 Saka). Pada saat pengangkatannya, Patih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa


Sumpah Palapa ini ditemukan pada teks Jawa Pertengahan Pararaton, yang berbunyi : 

"Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".

Terjemahannya : 
"Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".


3. Masa Kejayaan Kerajaan Majapahit

Wilayah Kerajaan Majapahit


Tribhuawana Wijayatunggadewi atau dikenal juga dengan nama Sri Gitarja, atau Ratu Tribhuwana Tunggadewi Jayawishnuwardhani menjadi ratu kerajaan Majapahit hingga tahun 1350 M, bertepatan ketika ibunya meninggal. Kemudian tampuk kekuasaan Kerajaan Majapahit diteruskan oleh putranya, Hayam Wuruk.

Hayam Wuruk, juga disebut Rajasanagara, memerintah Majapahit dari tahun 1350 hingga 1389. Pada masanya Majapahit mencapai puncak kejayaannya dengan bantuan mahapatihnya, Gajah Mada. Di bawah perintah Gajah Mada (1313-1364), Majapahit menguasai lebih banyak wilayah.

Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) dan sebagian kepulauan Filipina.[20] Sumber ini menunjukkan batas terluas sekaligus puncak kejayaan Kemaharajaan Majapahit.

Namun, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja. Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok

4. Runtuhnya Kerajaan Majapahit


Sesudah mencapai puncak kejayaan pada abad ke-14, kekuasaan Kerajaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Setelah wafatnya Hayam Wuruk pada tahun 1389, Majapahit memasuki masa kemunduran akibat konflik perebutan takhta. Pewaris Hayam Wuruk adalah putri mahkota Kusumawardhani, yang menikahi sepupunya sendiri, pangeran Wikramawardhana. Hayam Wuruk juga memiliki seorang putra dari selirnya Wirabhumi yang juga menuntut haknya atas takhta.[5] Perang saudara yang disebut Perang Paregreg diperkirakan terjadi pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Perang ini akhirnya dimenangi Wikramawardhana, semetara Wirabhumi ditangkap dan kemudian dipancung. Tampaknya perang saudara ini melemahkan kendali Majapahit atas daerah-daerah taklukannya di seberang.

Waktu berakhirnya Kemaharajaan Majapahit berkisar pada kurun waktu tahun 1478 (tahun 1400 saka, berakhirnya abad dianggap sebagai waktu lazim pergantian dinasti dan berakhirnya suatu pemerintahan) hingga tahun 1518.

Dalam tradisi Jawa ada sebuah kronogram atau candrasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi. Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Namun yang sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bhre Kertabumi, raja ke-11 Majapahit, oleh Girindrawardhana.

Sedangkan berdasarkan catatan sejarah dari Tiongkok, Portugis (Tome Pires), dan Italia (Pigafetta) mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus, penguasa dari Kesultanan Demak, antara tahun 1518 dan 1521 .

Demikian Sobat Sakuilmu, sekilas mengenai sejarah kerajaan Majapahit. Semoga bermanfaat.
Inilah Daftar Raja Kerajaan Majapahit

Inilah Daftar Raja Kerajaan Majapahit

Inilah Daftar Raja Kerajaan Majapahit | Setelah pada kesempatan yang lalu kita sudah mengetahui Sejarah Kerajaan Majapahit, pada kesempatan ini kita akan mengenal raja-raja yang pernah berkuasa dan memimpin kerajaan Majapahit, dari awal berdirinya kerajaan Majapahit yang tak lepas dari sejarah kerajaan Singhasari (Singosari), masa kejayaan hingga masa keruntuhan kerajaan Majapahit yang digantikan oleh Kesultanan Demak.

Kerajaan Majapahit atau juga yang dikenal dengan nama Vilvatikta (Wilwatikta. Vilva: Pohon Maja, Tikta : Pahit), merupakan nama kerajaan besar di Indonesia yang berpusat di Jawa Timur.

Daftar Raja-Raja Kerajaan Majapahit


Nama RajaGelarTahun
Raden WijayaKertarajasa Jayawardhana1293 – 1309
KalagametSri Jayanagara1309 – 1328
Sri GitarjaTribhuwana Wijayatunggadewi1328 – 1350
Hayam WurukSri Rajasanagara1350 – 1389
Wikramawardhana
1389 – 1429 Suhita Dyah Ayu Kencana Wungu 1429 – 1447 Kertawijaya Brawijaya I 1447 – 1451 Rajasawardhana Brawijaya II 1451 – 1453 Purwawisesa atau Girishawardhana Brawijaya III 1456 – 1466 Bhre Pandansalas, atau Suraprabhawa Brawijaya IV 1466 – 1468 Bhre Kertabumi Brawijaya V 1468 – 1478 Girindrawardhana Brawijaya VI 1478 – 1498 Patih Udara 
1498 – 1518 
Kerajaan Majapahit merupakan gambaran kejayaan Nusantara pada waktu yang lampau, dimana Nusantara pernah menjadi negara yang super power, subur dan makmur serta disegani oleh bangsa - bangsa di dunia.

Demikian Sobat Sakuilmu, Daftar Raja-Raja Kerajaan majapahit yang bisa kita ketahui. Semoga beramanfaat, dan sampai jumpa pada artikel Sejarah lainnya.